Post kali ini akan terasa panjang sekali.
*pletek2 jari*
Gue
suka banget sashimi.
Sashimi, salah satu makanan khas Jepang yang mayoritas bahannya adalah hasil laut.
Ok, cukup. Gue nggak akan membahas sashimi, lebih lengkapnya dapat di lihat melalui search engine, Google.
2 Minggu lalu, gue makan malam di restoran Jepang daerah Jakarta Selatan bersama keluarga gue.
Gue pikir, malam itu akan menjadi makan malam yang menyenangkan.Ternyata hal tersebut hanya khayalan belaka.
Gimana nggak?
Bokap gue, selama makan malam berlangsung, mengunci diri di toilet dengan kedua Handphonenya.
Ngapain lagi?
Berantem
sama
affair-nya.
Gue yang sudah biasa dengan keadaan ini mencoba menikmati mie rebus ala Jepang yang gue pesan (Gue lupa namanya apa, sejenis ramen).
Nyokap gue kelihatan muram, memakan sashiminya dengan perlahan.
Adik gue?
Mukanya sih udah kayak mau ngelempar piring.
Cut off the story --Besoknya, nyokap manggil gue dan adik gue untuk ngobrol bareng. Tentang bokap gue.
Nyokap gue cerita, semalam dia udah ngomong sama bokap gue. Bokap gue merasa kurang diperhatiin sama nyokap gue.
Iya, gue sendiri bisa melihat itu.
Nyokap gue, 6 bersaudara, wanita karir, ga bisa sekolah tinggi karena keadaan ekonomi keluarga yang kurang baik, beliau cuma lulusan SMK memasak, namun karena kerja kerasnya, dia berhasil masuk ke suatu perusahaan asing dan sering keluar negeri untuk urusan kantor.
Intinya,
nyokap gue memang ingin sekali bisa mengubah nasib keluarga kami.
Tapi
dia sama sekali nggak melupakan kewajiban sebagai Ibu dan memonitor rumah tangga.
Dulu mama kerja keras juga untuk keluarga kita, dimana dengan segala keterbatasan mama yang cuma lulusan SMK, berusaha membantu ayah mencari uang untuk beli susu, biaya pendidikan, dan saat itu nggak ada yang support mama.
Mertua ayah yang sering menyalahkan mama karena pendidikan mama nggak tinggi, dan baru melihat mama setelah mama pulang pergi ke Eropa.Dan ayah menyalahkan mama karena satu kekurangan mama, nggak perhatian.Memang ayah orangnya nggak gampang bicara. Tapi kenapa setelah 20 tahun, baru bilang?Gengsi untuk bicara? Kurang terbuka?
Ternyata
gengsi & tidak terbuka harus dibuang jauh-jauh dalam suatu relationship.Nyokap gue bilang ke bokap,
Apakah karena kamu hitam, saya harus cari pengganti yang lebih putih?
Apakah karena kamu suka ngorok, saya harus cari orang yang nggak ngorok jadi saya bisa tidur di sampingnnya tanpa terganggu?
Apakah karena kamu suka banget makan, saya harus cari orang yang nggak suka makan jadi saya nggak pusing harus masak apa hari ini? nggak pusing mikirin menu makanan? 
Waktu itu bokap cuma diem.
Gue sih ketawa denger kalimat nyokap yg terakhir.

Jangan memberikan
alasan klise seperti "pasangan nggak perhatian", lantas kamu bisa mencari perhatian dari yang lain.
Gue rasa banyak pasangan di luar sana mengalami kasus seperti ini. Teman di sekitar gue juga ada yang mengalami hal seperti ini karena ....
KURANG KOMUNIKASI.Sebenernya masalah tersebut bisa dibicarakan,
compromise antar mereka berdua. Sehingga tidak ada yang seenak jidatnya.
Apakah karena 1 masalah, membuat seseorang bisa berpikir untuk melompat dari satu hubungan ke hubungan lainnya karena
terlihat lebih mudah?
Gue mengerti, kadang seorang cowo / cewe ... yang introvert, lebih sering menyelesaikan problemnya sendirian, "berjalan sendirian", tidak menyadari bahwa banyak
problem yang bisa diselesaikan dengan komunikasi.

Minta pertolongan kepada pasangan (untuk lebih perhatian, lebih sering ngobrol, etc2)
bukanlah suatu kelemahan, melainkan tanda kekuatan. 
Gengsi untuk mengungkapkan perasaan, tidak terbuka, hal tersebut bisa membuat seseorang merasa
tertekan, dan akhirnya
memberontak.
Gue pun awalnya seperti itu. Untungnya, sekarang gue dapet partner yang cukup peka dan menanyakan perasaan gue.
Di situ, gue bisa
sharing tentang perasaan gue.
Gue tahu, gue
nggak bisa mengandalkan ke-pekaan partner gue
terus-terusan, gue
harus merubah diri gue sendiri. Untuk
lebih terbuka pada pasangan gue.
Gue akui memang nggak gampang, semuanya memang
butuh proses , hasilnya bisa dilihat nanti.
Kedua.Dulu Temen gue, gue biasa manggil dia koko, pernah menanyakan hal ini :
Lebih baik keluarga loe punya duit banyak, tapi nggak bahagia karena anak-anak sering merasa ga diperhatiinatau lebih baik bahagia dengan keadaan ekonomi secukupnya saja? (perhatian cukup, pendidikan cukup, semua cukup).
Nyokap gue sendiri juga membahas hal tersebut dengan bokap.
Saya yakin kalau kamu cuma bisa naik motor, nggak punya mobil kaya sekarang, kamu nggak akan berani bertingkah.Kalau saya disuruh memilih, sekarang atau dulu.
Ya, saya tetep keadaan milih sekarang.Loh?
Memang, keadaan rumah tangga nggak sempurna.
Hidup memang nggak ada yang sempurna kan?
Bahwa sekarang keluarga gue hidup berkecukupan.
Lebih dari cukup, masih bisa memberi orang lain.
Nggak ada kekerasan fisik dalam rumah tangga.
Bahwa anak-anak sehat.
Nggak narkobaan, nggak ngerokok.
Bahwa kita masing-masing itu
tidak sendirian.
Hidup itu adil, ada + dan -.
I guess my point is,Bersyukur dengan apa yang kita punya, jangan melihat hanya (-) negatifnya saja.
Nggak usah lebay.
Be tough.